Skip to content →

Eh, Aku Bisa Bahasa XYZ loh!

Baru-baru ini saya berkenalan dengan seseorang, yah sebut saja namanya Anjani. Dari percakapan singkat kami sore itu, dia mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Mandarin dan dia langsung saja heboh mengatakan dirinya juga bisa bahasa Mandarin. Wow! Tentu saja reaksi saya sangat senang, akhirnya bisa bercakap-cakap menggunakan bahasanya si Yoko dan Bibi Lung dengan orang Indonesia. Langsunglah saya bersemangat mengetik pakai aksara Hanzi.

Ohyaa? *pake hanzi

Iyaaa *jawabnya pake hanzi juga

wah boleh juga nih, langsung dah awak nyerocos pakai hanzi dan dia juga masih bisa membalas dengan lancar. Sampai beberapa kalimat yang udah agak panjang, eeh kok balasnya tambah lama ya.

Krik…krik

Eh, lha kok setelah itu dia bilang kalau sebenarnya dia baru belajar mandarin, belum belajar huruf-huruf hanzi, cuma pinyinnya doang. Tapi dia masih berkelit kalau dia paham kok apa yang saya bilang. Wah hebat ya! Saya masih memuji dan berpikir dia sedang berusaha menjadi rendah hati.

Masih lah meluncur kalimat-kalimat menggunakan hanzi dari saya, eee lama-lama dia mengibarkan bendera putih dan ‘ngaku’ kalau sebenarnya dia baru belajar bahasa mandarin dan baru tau beberapa huruf hanzi dan pinyin aja.

GUBRAAAKS!

Hebat yaa, baru bisa beberapa huruf dan kalimat langsung mengklaim diri “SUDAH BISA”. Padahal yang sudah belajar bertahun-tahun saja masih merasa “GA BISA” dan terus berusaha belajar agar lebih baik.

Awalnya saya sinis dan sempat kecewa sama si mbak Anjani tadi tu, eh tapi sejurus kemudian saya jadi malu sendiri.

Apa pasal?

Ternyata saya lebih parah tingkat sok-sokannya, pas jaman nulis skripsi dulu saya nekad ambil topik perbandingan dua bahasa. Kalau bahasa Inggris dan bahasa Jawa/Indonesia masih mending kali ya karena memang penutur asli dan benar-benar bisa. Lhaa ini saya ambil bahasa Jepang dan bahasa Inggris! Alahmaak, suer deh waktu itu karena saya merasa super keren aja kalau bisa analisis bahasa Jepang daripada bahasa Indo atau Jawa. Padahal masalahnya saya belum bisa bahasa Jepang. Well, kursus sama teman yang jurusannya bahasa Jepang sih pernah ya trus saya juga baca-baca buku referensi bahasa Jepang di perpus jurusan bahasa Jepang, FIB UGM. Tapiii tetep ajaa kategorinya belum bisa. Lhaa ga bisa ngomong, cuma ngerti beberapa kosakata dan aturan tata bahasa. Saya sudah sok kali mengklaim “PAHAM” dan “BISA’ bahasa Mandarin saat ditanya dosen penguji.

Lah ternyata saya sendiri lebih parah daripada mbak Anjani tadi ya? Buahaha…sumpeeh kalau ingat lagi sungguh malu-ku di Ambon. Mbok yo ambil filosofi padi, makin berisi makin menunduk. Yaelaah ngapain juga ilmu cetek disombongin, yang lebih pintar banyak!

Nah,  setelah jadi guru bahasa saya jadi tau dikit-dikit tentang level kemampuan bahasa menurut standar  CEFR  Common European Framework of Reference . Ada 6 level atau tingkat kemampuan bahasa yang terdiri dari A1, A2, B1,B2 dan C1, C2.

Berikut adalah penjelasan masing-masing level

Level Pengguna Dasar

Level A1

  • memahami dan menggunakan frasa paling mendasar
  • Memperkenalkan diri, menyebutkan informasi dasar tentang pribadi, keluarga, hobi dan lingkungan sekitar dan hal-hal yang dimiliki
  • Berinteraksi dengan sangat sederhana, berbicara dengan sangat perlahan

Level A2

  • Dapat memahami kalimat dan ungkapan yang sering digunakan terkait area yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari ( contoh: informasi pribadi yang mendasar, informasi keluarga, berbelanja, geografi lokal, pekerjaan, dll)
  • Dapat berkomunikasi dengan sederhana mengenai tugas rutin yang memerlukan pertukaran informasi yang familiar dan berkaitan dengan rutinitas sehari-hari
  • Dapat menggambarkan dengan sederhana tentang latar belakangnya, lingkungan sekitar dan hal-hal yang berhubungan dengan dirinya

Level Pengguna Independen

Level B1

  • Dapat memahami poin utama dari permasalahan sehari-hari yang terjadi dalam lingkungan, pekerjaan, sekolah, hobi, dll
  • Dapat mengatasi situasi yang muncul saat berwisata di daerah tempat dimana bahasa tersebut digunakan
  • Dapat menghasilkan teks sederhana yang terkait dengan topik yang familiar atau minat personal
  • Dapat menjelaskan pengalaman dan peristiwa, impian, harapan dan ambisi serta memberikan alasan dan penjelasan singkat mengenai pendapat dan sebuah rencana.

Level B2

  • Dapat memahami ide pokok dari teks kompleks baik pada topik konkret maupun abstract, mencakup diskusi teknis dalam bidang spesialisasi mereka
  • Dapat berinteraksi dengan lancar dan spontan yang memungkinkan interaksi dengan penutur asli tanpa menimbulkan ketegangan pada satu pihak
  • Dapat menciptakan teks yang detil dan jelas dengan bermacam-macam topik dan menjelaskan sebuah sudut pandang tertentu memberikan keuntungan dan kerugian dari berbagai macam pilihan.

Pengguna Ahli

Level C1

  • Dapat memahami berbagai tuntutan, klausa yang lebih panjang, serta mampu mengenali makna implisit
  • Dapat mengekspresikan ide dengan lancar dan spontanitas tanpa menunjukkan ekspresi keraguan
  • Dapat menggunakan bahasa secara fleksibel dan efektif untuk tujuan sosial, akademik maupun profesional
  • Dapat memproduksi teks yang jelas, terstruktur dengan baik dan detil pada subject yang kompleks, menunjukkan kontrol yang penuh atas penggunaan pola kalimat, penghubung dan perangkat kohesi lain

Level C2

  • Dapat menjelaskan dengan sangat mudah apapun yang dibaca ataupun didengar
  • Dapat merangkum informasi dari sumber tertulis maupun lisan, merekonstruksi argumen dan opini dalam sebuah presentasi yang koheren
  • Dapat mengekspresikan diri mereka sendiri secara spontan, sangat lancar dan tepat, membedakan nuansa makna yang halus bahkan dalam situasi yang paling kompleks sekalipun

Nah, kira-kira sampai di mana nih kemampuan berbahasa kita? Yuk, ukur sendiri dengan standar CEFR ini.

Published in Uncategorized

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*