Skip to content →

Dosen stylish, yay or nay?

Menjadi pengajar, guru atau dosen memang sudah jadi cita-cita saya sejak dulu. Jiwa pendidik nampaknya sudah mendarah daging di diri saya bahkan semenjak sebelum saya dilahirkan. Coba bayangin, mbah Kakung saya adalah seorang guru dan penilik sekolah (jabatan paling keren jaman dulu coy), lalu budhe, bulek, ibu dan bapak saya adalah guru. Dari jaman masih piyik sudah sering di’cangking’ ibu ke sekolah, ikut ke kelas dan melihat beliau mengajar. Waktu SMA dan teman-teman sibuk bin bingung milih-milih jurusan yang keren seperti teknik, pertambangan, hubungan internasional, MIPA, kedokteran, eeh saya dong yang anteng-anteng aja karena udah pasti saya akan masuk ke FKIP alias fakultas keguruan dan ilmu pendidikan.

Akhirnya saya beneran kuliah di jurusan pendidikan Bahasa Inggris, namun setelah lulus saya tak langsung bekerja menjadi seorang guru. Waktu telah membawa saya malang melintang mencicipi pengalaman baru. Setelah itu saya mendapatkan sebuah pekerjaan yang sayangnya jauh sekali dari dunia pendidikan, setiap hari berkutat dengan dokumen dan administrasi. Hingga bertahun-tahun kemudian akhirnya dapat juga kesempatan untuk studi lanjut.

Now, here I am..

Menjadi pengajar di sebuah universitas swasta, btw saya belum ada jabatan fungsional yah jadi belum layak disebut ‘dosen’, nanti deh kalau udah ajuin CCP dan sudah menyandang jabatan AA (Asisten Ahli) barulah bisa disebut dosen betulan.

Tentu saja sebelum mengajar di Universitas, dulu sempat mengajar di sekolah sebagai guru Bahasa Inggris. Daaan ternyata saya ga enjoooy sama sekali menjadi guru. Kibar bendera putih dah! Nyeraah wes, bukan apa-apa, kalau jam kerja masih enak ya pulangnya juga siang. Tapiiii baju kerjanya itu lhoo, haha. U know lah ya, jadi guru di sekolah benar-benar jadi panutan anak-anak. Berangkat sekolah harus pakai seragam ataupun batik, rok atau celana kain (well lebih disarankan pakai rok untuk perempuan) truuus sepatunya pantofel hitam. Ohmaigaaat! Ane sungguh-sungguh tersiksa. Bisa ga sih, pakai baju bebas aja? Haha, langsung kena SP dari Kepsek trus disuruh minggat kali ya kalau saya pakai baju santai dan celana sneakers buat ngajar.

Ada juga beberapa teman yang menjadi guru di sekolah yang curhat kalau style berbusana sungguh sangat dibatasi. Misal dari cara pakai jilbab ga boleh yang aneh-aneh, jilbab paris ga boleh distyle macam-macam, cukup dikasih bross aja di samping dada. Pakai sepatu pun demikian, pakai sepatu ‘bergaya’ sedikit misalnya wedges atau flatshoes yang lucu juga pasti udah dikomentarin sama guru-guru senior. Apalagi pakai boots? Hahaha…

Eh tapi ada juga lho guru di sekolah yang stylenya kereen abis dan beliau cuek-cuek aja sama sekitar. Yap beliau adalah guru pembimbing saya waktu PPL dulu, sepatunyaa itu loh book mantaps gila, sepatu boots! Makeupnya juga kece, pasti selalu pakai lipstik warna terang dan wajah yang selalu fresh karena touch up terus. Jadinya ga ‘kluwus” mukanya, ga ada cerita yaa bedaknya luntur atau lipstiknya pudar. Touch up lagi dong! Nah kalau gini saya liatnya murid-murid juga jadi bersemangat memperhatikan gurunya.

Sebenarnya jadi dosen pun sama aja, kebanyakan dosen di fakultas saya dulu (FKIP cuy) juga dandanannya seperti itu *. Walau ada beberapa dosen yang lebih santai tidak harus saklek seperti di sekolah. Saya jadi berpikir, aduh kok rasanya kaku banget ya, masak iya sih ngajar ga boleh pake sepatu kets biar ga pegel pake pantofel terus. Bisa ga ya pakai baju bebas, yang lebih trendy dan biar keliatan muda gitu buat ngajar. Yah, bukan untuk menarik perhatian siapa-siapa sih, biar lebih enjoy aja ngajarnya.

Alhamdulillah sekarang saya bergabung dengan fakultas sastra yang notabene lebih longgar dan lebih fleksible dalam hal berpakaian. Role model saya adalah ibu wadek kami yang superrr stylish! Gilaaa aja bok, taste fashionnya itu trendy dan eye-catching sekali. Dimulai dari pemilihan baju dan sepatu juga tas beliau yang selalu matching dan bertema, pokoknya enak deh kalau dilihat. Memang harus pintar-pintar lihat situasi, ga mungkin dong pas acara resmi pakai dress jeans, pastinya pakai batik seragam fakultas or universitas.

Saya pribadi sih memang suka pakai batik, tapi ga melulu yang baju kemeja. Unsur batik bisa saya aplikasikan di kerudung atau dress batik yang unyu-unyu. Cekidot deh gaya saya di bawah ini, ya kira-kira beginilah style saya kalau mengajar.

Scarf Batik dan Dress hitam selalu jadi andalan
Scarf Batik dan Dress Hitam selalu jadi andalan

 

 

Dress batik U Can See myketek ini favorit saya juga *aslinya daster sih wkkk
Nah, ini juga daster aslinya wkkk

So gimana pendapat kalian, suka dosen yang formal banget gaya busananya atau yang stylish? 🙂

Kaos Stripes dan Rocella (rok celana) juga favorit saya

 

 

 

 

 

 

 

af

 

 

Published in life as lecturer My thought Universitas Ahmad Dahlan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*