Skip to content →

Sepetak Surga yang Hilang, Kawah Putih

Kawah Putih.

Sudah bertahun-tahun lamanya saya cuma bisa mengagumi keindahan dan keelokannya dari jauh, entah dari cerita teman-teman yang sudah mengunjunginya langsung atau dari foto-foto instagram para traveller yang misterius namun mempesona. Semuanya sukses bikin saya penasaran!

Cerita terakhir saya dapat dari teman saya si Mila yang baru saja dari Bandung, dia bilang dengan mantapnya. “Mbae harus wajib datang ke sana” lanjutnya bercerita “Beuuuuh, coba bayangkan kita jalan di tengah-tengah kabut mistis dengan latar air hijau toska dan di samping kanan kiri banyak ranting pohon-pohon mati yang udah menghitam. Sumpah, merinding, Mbae! Kayak di negeri dongeng, kita lagi jalan di kahyangan gituu” ujarnya dengan wajah penuh ekspresi takjub

Bagai tersihir oleh ceritanya, saya pun langsung ngecek kalender dan langsung tersenyum lebar. Aha! Bulan Maret akhir ada hari kejepit di hari Kamis. Suami saya minta untuk jauh-jauh hari mengajukan izin libur pada hari Jumat supaya bisa berangkat pada hari Rabu malam. Kawah putih langsung kami jadikan destinasi pertama, walaupun paginya kami baru sampai di stasiun Bandung. Belum mandi, belum sarapan, belum touch up juga tapi kami sudah tak sabar meluncur ke Ciwidey. Baru di tengah perjalanan kami bisa mampir ke warung khas Sunda untuk mengisi perut sekaligus bersih-bersih dan ganti baju. Tebak yang berani mandi siapa? Ya cuma saya, soalnya airnya duingiiiiinne pol! Persis seperti di Dieng. Ya saya sih sudah terbiasa karena memang anak gunung, tetapi suami dan anak-anak ga ada yang berani dong.

Perjalanan dari Bandung kota menuju Ciwidey kurang lebih 2 jam dengan mobil akhirnya usai juga dan kami sampai di kawasan Kawah Putih. Pak Sopir bilang kami masih harus naik ontang-anting lagi *sejenis angkot terbuka dan bayar 15 ribu per orang untuk sampai ke kawahnya. Jaraknya masih 5 km lagi ternyata dari loket pintu masuk.

Beruntung, waktu kami ke sini tak nampak kabut tebal yang menghalangi pandangan. Air hijau toska itu akhirnya bisa kami lihat langsung! Woaaa…beda banget sama telaga Menjer di Dieng. Wiihhhh cakeep!

Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan berlama-lama di area kawah, maksimal 15 menit saja karena udaranya mengandung belerang. Kami pun cepat-cepat turun ke kawah dengan menuruni jembatan. Aroma belerang sudah mulai menyengat, saya pun mulai memasang masker di wajah tapi sayang ainan blas ga mau dipasangin. Dicopotin mulu.

See? Air yang berwarna hijau toska, berpadu dengan putihnya tanah, dan kabut putih yang terkadang muncul menyelimuti kawasan kawah sungguh memikat hati. Warna danau ini konon dapat berubah sesuai dengan suhu udara dan kondisi belerangnya. Uniknya lagi, di sekitar kawah ini dikelilingi ranting-ranting pohon mati yang semakin menambah eksotisme kawah putih ini.

Kuy cekidot lah foto-fotonya!

Pssttt kok kece banget foto-fotonya? Hahaha, ini minta difotoin mas-mas fotografer dong. Murah lah 100rb dapat 15 file, ga usah pake cetak langsung transfer ke HP. Thanks mas!

Beraaattt 🙂
Ngapain sih kok ngumpet, Ways?
Gini doong, kalem semua 🙂 Favorit dah!
Candid ala-ala

Pokoknya ga nyesel deh datang ke sini jauh-jauh, walau cuma bisa sebentar main ke kawahnya.Its really worth it, guys! Wisata alam Bandung yang wajib, you should put it on your first list! Ga punya kamera kece yang monyong2 itu? Gasah kuatir di kawah sana buanyaaak banget mas-mas eh aa’ aa’ fotografer yang baik hati mau foto-fotoin kita dengan harga murah, bisa ditawar lagi! Hihihi

Jadi gimana, apa kalian sudah pernah ke kawah putih juga? Masih ingin revisit? Iyes kalau saya sih. Ternyata banyak juga kawan-kawan yang tidak seberuntung saya pas kesini masih berkabut dan ga bisa liat warna air toskanya. What a lucky day for me!

With love,

Kusuma Family

Published in Bandung Trip Family trip Indonesia Uncategorized

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*