Skip to content →

Imlek dan Angpao Pertamaku

Imlek 2009 adalah imlek pertama yang saya rayakan di negeri biksu Tong Samchong dan Sun Go Kong berasal. Tahun yang menjadi keberuntungan saya karena Imlek pada tahun itu adalah tahun harimau yang bertepatan dengan shio tahun kelahiran saya. Kata orang-orang sih begitu, saya bisa berdoa supaya apa yang saya inginkan terwujud. Wuiih seperti lihat bintang jatuh saja ya! Ibu teman saya juga bilang kalau mau beruntung, saya harus pakai baju dalam berwarna merah pada imlek di tahun kelahiran saya ini. Hehhe ada-ada aja yak!

Oya sedikit flashback, saat itu teman baik saya mengundang saya untuk datang ke rumahnya di kota Guilin dan meminta saya untuk tinggal di sana sambil merayakan hari raya Imlek daripada di asrama sendirian. Memang waktu Imlek selalu berbarengan dengan momen liburan musim dingin sekitar dua bulan lamanya. Ya sudahlah saya mengiyakan ajakannya, daripada jadi fosil membatu di asrama. Soalnya kampus pasti akan sueeppiiiii, orang-orang pada mudik bahkan pasar kampus banyak yang tutup kiosnya.

Perjalanan dari Nanning ke Guilin kami tempuh dengan menggunakan kereta api, wiih gilaa saya sempat shock waktu kami sampai di stasiun kereta api. Kami terkepung dalam lautan manusia! Mungkin begini kira-kira situasi yang dihadapi para perantau waktu mau mudik ke kampung halamannya dari ibu kota Jakarta. Gilaaa, kami hampir tak bisa bergerak sedikitpun! Bayangkan semua orang tumpah ruah mau pulang kampung merayakan Imlek bersama keluarga, dengan penuh semangat menggeret-geret koper dan segambreng barang bawaan lain, kardus, plastik, tas jinjing, dll. Widiih, pokoknya sikut kanan sikut kiri penuh perjuangan akhirnya kami bisa sampai di tempat duduk kami. Fiuuuh leganya!

huoche zhan

Waktu itu belum ada kereta super cepat sih ya, masih kereta api biasa yang bentuknya hampir mirip seperti di Indonesia. Tempat duduknya juga berhadap-hadapan, maklum kereta ekonomi. Oya saya masih ingat dulu waktu beli tiket kereta kami dapat potongan diskon lumayan banyak lho, karena pas di loket kami menunjukkan kartu mahasiswa jadinya dapat diskon. Yeay! Keren sekali, ga cuma naik kereta, beli tiket di obyek wisata bahkan beli karcis bioskop pun ada diskon karena mahasiswa! Hohoho, lumayan lah bisa hemat.

Suasana di kereta asik-asik aja sih, saya bisa menikmati pemandangan di luar sana yang indah dan tentunya berbeda dengan di Indonesia. Biasanya yang saya lihat adalah sawah-sawah hijau, tetapi di sini sejauh mata memandang berderet-deret pegunungan kapur yang dulu hanya bisa saya lihat di film Dragon Ball sambil membayangkan Songoku terbang meliuk-liuk di antara pegunungan kapur dengan awan kintonnya. Hahaha, kalau kita seusia pasti paham yaa..

Cahaya cinta perlahan menyilaukan
Itulah mimpi kehidupan kedua
Mimpi itu dari mana datanganya

Jawabnya ada diujung langit
Kita kesana dengan seorang anak
Anak yang tangkas dan juga pemberani

Bertarunglah Dragon Ball
Dengan segala kemampuan yang ada
Bila kembali dari langit
Semoga hidup kan jadi lebih baik

(U SING U LOSE! Wkkkk)

Eaaa ketauan sekarang umurnya yaaa, hohoho

Tapi sayaaang, pemandangan indah di luar kereta itu langsung berganti dengan adegan film-film dewasa ketika saya mengalihkan pandangan ke kursi depan persis di sebelah kanan saya. Ga ngintip siiih sebenarnya tapi kok ya pas di depan mata saya

Published in Uncategorized

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*