Skip to content →

Luka yang Tertinggal

 

Terik matahari rasanya lebih menyengat beberapa hari ini, baru saja setengah hari lewat tapi baju kaosku sudah basah oleh peluh keringat. Sang penyelamat mungilku yang tak henti terus bekerja meniupkan angin di kamar kosku nampaknya tak kuasa menandingi gerah sepanjang hari ini. Beruntung, halaman kos yang cantik ini cukup rindang dipenuhi pepohonan dan tanaman hijau. Hari ini aku santai saja di kos, jadwal kuliah siang ini kosong karena dosennya sedang pergi ke luar kota. Lumayan aku bisa tidur-tidur ayam bermalas-malasan di kos sambil scroll timeline Instagramku.

…Krek..Blam…

Kudengar suara tapak langkah kaki bersijingkat perlahan melewati kamarku lalu dengan penuh kehati-hatian dia membuka pintu kamar kosnya agar tak terdengar siapapun, lalu menutup daun pintu kembali dengan perlahan.

Huh, jangan pikir aku bodoh, Irine. Aku tahu kamu sedang menghindariku, berusaha setiap hari agar tidak berpapasan dengan penduduk kos yang lain. Tapi tetap saja kamu tidak bisa lolos dariku, si mata elang dan si kuping tajam. Aku tahu kapan kamu pulang  ke kos, aku tahu kapan kamu pergi, meskipun kamu sudah tak sudi bertegur sapa lagi denganku. Apa kamu lupa? Kamar kita bersebelahan! Tapi kenapa kamu begitu menutup diri dan menghindariku beberapa bulan ini? Cih, oke, fine!

……….

Entah berapa lama lagi aku harus bersembunyi seperti ini. Aku capek, Lan! Sungguh sial, punya pacar bukannya bikin aku bahagia tapi merana  seperti ini. Alan…oh Alan, kalau sudah begini aku harus bagaimana? Masalahnya aku terlalu cinta sama kamu. Persoalan cinta memang sungguh pelik. Sampai-sampai aku tak punya lagi waktu bersama teman-teman kuliah dan teman kos. Lihat, Lan! Semua waktuku sudah aku kasih semua buat kamu. Kenapa kamu jadi egois sekarang? Kenapa kamu berubah, sayangku? Ah, aku pusing. Tak kupedulikan lagi tugas kuliah, sahabat-sahabatku, semua isi kepalaku sudah penuh. Oh mungkin tidur bisa menyelamatkanku dari kebuntuan ini.

………

“Rin! Udah makan? Makan bareng yuk?” Sapaku saat kulihat kelebat Irin lewat depan kamarku.

“Aduh, sori banget, Sel! Aku buru-buru mau kuliah nih, duluan ya!” Jawabnya sambil bergegas pergi.

“Oooh, gitu. Oke deh, hati-hati ya!” timpalku sambil kulihat bayangannya menghilang menuruni tangga kos. Kuedarkan pandangan ke sekelilingku sambil lamat-lamat membayangkan tawa ceria kami berdua dulu di kursi depan kamar Irin di pojok kos kami di lantai dua. Ah, sebenarnya aku ga benci sama kamu, Rin, aku kangen ngobrol dan ketawa-ketawa bareng sama kamu, nonton drama Korea bareng lalu heboh seharian membahas oppa idola kami. Aku kesepian, Rin. Rasanya aku kehilangan separuh diriku. Dulu kita berdua begitu dekat, sering makan bersama dan ngbrol berdua. Ya karena di lantai atas kos Monalisa ini Cuma kita berdua yang masih kuliah, mbak-mbak lain sudah bekerja semua jadi jarang di kos. Hmm ini pasti gara-gara si kakak tingkat ganjen itu, sejak dia muncul di kehidupan Irine semuanya berubah.

……

“Alan, aku harus gimana sekarang?!” Tanyaku panik sambil kuseka air mataku yang deras mengucur sedari tadi. Ugh lagi-lagi aku terpaksa bolos kuliah karena harus bertemu Alan. Persetan lah dengan presensi kuliah, biar saja kalau toh tidak bisa ikut ujian.

“Apanya yang gimana? Udah jelas kan, kamu harusnya paham apa yang harus kamu lakuin sekarang!” Jawabnya ketus sambil melemparkan pandangannya ke arah lain.

“Lan! Lihat aku, pandang mataku! Kemana Alan dulu yang begitu penyayang dan peduli padaku? Kenapa sekarang kamu berubah, Lan? Kamu ga sayang aku lagi?” Kuguncang-guncang bahu Alan masih berharap belas kasihannya.

DItepisnya tanganku, lalu dengan acuhnya dia merebahkan badannya di kasur sambil meraih sebatang rokok lalu mulai membakarnya. Tak peduli lagi dengan isak tangisku yang semakin kencang.

…….

Berhubung hari ini aku tidak ada jadwal kuliah, aku menyibukkan diri dengan membersihkan kamarku. Kucuci gorden kamar yang entah sudah berapa abad tidak tersentuh detergen, kusapu semua sudut kamarku, kujemur kasurku yang sudah bau apek di bawah terik matahari, aku gosok jendela kamarku hingga kinclong. Hmm bersih-bersih memang selalu menyenangkan, tak sadar bola mataku melirik kamar Irine. Kamar yang dulunya hangat sekarang berubah jadi dingin, sepi dan bagai tak berpenghuni. Oh, ini semua pasti karena Alan si kakak senior itu. Kau rebut Irine dariku, kau ambil semua waktunya untuk bersamamu. Huh! Menyebalkan…

Kuhabiskan siang hari itu dengan bersantai sambil menanti sore tiba sambil membaca buku kesayanganku dan mendengarkan music Blackpink favoritku.

 

——-

Lekat-lekat kupandangi butir-butir tablet berwana merah dan hitam itu, Alan bilang aku harus segera menenggak butir-butir itu dan semua akan baik-baik saja. Namun entah mengapa aku bimbang, hati kecilku berteriak dan berontak, seolah ada yang menahanku. Mungkin aku sudah gila, aaaaaaaarghhhh ingin kuteriak tapi apa daya aku hanya bisa menyimpannya sendiri. Entah sampai kapan aku sanggup menyembunyikannya. Haruskah aku buka mulut dengan Selly? Ah…tidak…tidak, aku takut dia akan menghakimiku.

———–

Hari demi hari berlalu, tak terasa semester ganjil sebentar lagi berakhir. Aku pun semakin sibuk dengan persiapan UAS, tugas-tugas menggunung menanti untuk diselesaikan, janji dengan kawan kelas untuk belajar kelompok dan sederet kegiatan organisasi kampus yang menuntutku untuk hadir di rapat ini dan itu. Ah, lumayan lah ada kegiatan daripada melamun di kos. Pergi pagi pulang petang, meski capek tapi aku senang karena dapat teman dan pengalaman baru.

Hmmm Irine apa kabar yah? I miss you, Rin…

————

Semakin hari rasanya semakin tak karuan, kuliahku kacau berantakan, entah sudah berapa kali aku bolos, TA sudah tak mempan lagi karena peraturan kampus semakin ketat. Pikiranku semakin kalut, buntu, tak tahu harus bagaimana. Alan? Ah sudah berapa bulan dia mengacuhkanku, ratusan pesan yang aku kirim tak ada satupun yang di-reply, hanya read saja. Dasar laki-laki playboy tak berperasaan! Sial, kenapa dulu aku jatuh hati padamu? Oh, sungguh suatu kebodohan. Sekarang tersisa penyesalan tiada guna, air mataku sudah kering sekarang. Lan…Alan…kenapa kamu tega nyakitin aku?

—————–

Aku pun tak sadar kalau di luar sana langit mulai menggelap, awan-awan hitam seakan-akan mengepung kos kami lalu dengan semena-mena melepaskan panah-panah airnya. Bressss!!! Hujan deras mengguyur bumi, petir menggelegar bersahut-sahutan. Kutarik selimutku dan kusembunyikan tubuhku di dalam kasurku yang hangat, aah untung sempat kujemur tadi. Bau matahari masih tersisa membuatku mengantuk dan ingin memejamkan mata.

Hujan, dingin, dan hangatnya kasur dan selimut memang perpaduan yang sempurna! Aah, hampir saja aku terlelap saat kudengar pintu kamarku digedor-gedor dari luar.

“Mbak! Mbak Selly, bangun mba! Buka pintunya dong” Lamat-lamat kudengar suara Cecil mengetuk-ngetuk pintu. Dengan malas aku beranjak dari kasurku yang empuk, kuraih gagang pintu dan membukakanya.

“Apaan sih, Cil? Hujan-hujan gini heboh amat” ujarku ketus dengan mata terpicing dan menguap.

“Gawat, mba! Gawat!” Jawabnya panik dan nafasnya tersenggal-senggal. “Itu di WC..di WC…”

“Apa? Kenapa WCnya? Ada apa? Tenang dulu Cil! Tarik napas dalam-dalam!”

“Ada orang di dalam WC, mbak! Tapi udah lama banget ga keluar-keluar, ini udah hampir dua jam! Aku gedor-gedor ga ada respon. Awalnya aku kebelet pipis, tapi karena dipake ya udah aku pakai kamar mandi bawah. Aku udah masuk kamar tapi pas kulihat lagi pintu WC masih tertutup, jangan-jangan ada apa-apa, Mbak!” Cecil terus menyerocos tanpa henti dengan cemas.

“Alah, kamu ini parno banget, ya mungkin udah ganti oranglah masak dua jam di toilet ngapain? Kamu ga liat kali ada yang keluar” sambil menguap kutarik selimut ke tubuhku dan berencana kembali ke kasur tapi tangan Cecil menahanku.

“Aku ga tenang, Mbak! Kita cek bareng yuk? Ayolah…perasaan aku ga enak ini!”

Mau tak mau kuturuti juga si Cecil, memang dia orangnya terkenal suka panik dan parno. Aduh parah deh pokoknya, tapi supaya dia tenang aku iyakan ajakannya.

Tok…tok…tok…! “Siapa di dalam? Ada orang ga?” Kuketuk pintu kamar WC yang terbuat dari plastik ini. “Haloooo….” Tetap hening, tak ada jawaban.

“Pintunya rusak kali, Cil! Bilang sama bapak kos aja ni mah!”

“Tunggu mbak, kita cek saja kamar teman-teman satu-satu, siapa yang lagi di dalam.” Aduuuh minta digampar ini bocah, masak hujan deres gini bangunin anak kos satu-satu, minta disiram air comberan?

Kami pun mulai memeriksa kamar anak kos satu demi satu, sebelum mengetuk pintu kamar lain, tetiba pandangan mata kami beradu. Kami pun mulai dari kamar Irine yang berada di pojok.

“Tok..tok…tok! Iriineee, kamu tidur ya?” Teriakku tanpa tersadar tanganku memegang gagang pintu dan mendorongnya. Pintu pun terbuka tapi kami tak menemukan siapapun di kamar. Loh, kok kosong kamar Irine? Tapi ga terkunci, berarti dia ada di kos dong.

Kami pun langsung bergegas melesat ke WC dan menggedor-gedor pintunya dengan lebih keras.

“Iriine!!Buka pintunya, aku tau kamu di dalam! Rin! Dor-dor-dor! Aku hitung sampai tiga kalau ga kudobrak pintunya ya!” Kami berdua pun panik setengah mati, khawatir Irine pingsan di dalam sana. Akhirnya dengan sekuat tenaga aku mendorong pintu dan Cecil menendang  pintu WCnya berkali-kali.

Braaaaakkkkk!

Pintu WC pun terbuka dan kami melihat Irine di dalam sana.

Sesaat darah kami terhenti, jantung kami berdegub kencang dan tubuh kami berdua gemetar melihat pemandangan ini.

Irine!!

Kami berteriak sekuat tenaga, untung teriakan dan keributan  kami tadi  tenggelam oleh derasnya hujan sore ini. Cecil terduduk lemas di pintu kamar mandi, matanya terbelalak dan tubuhnya seketika lemas melihat merah darah berceceran di mana-mana. Tangan Irine, oh tangannya berlumuran darah!

Plak! Kutampar pipi kanan dan pipi kiriku membuatku tersadar, Oh ternyata ini bukan mimpi! Ayo, Sel lakukan sesuatu!

“Irine, tetap disitu! Aku bantu!”

Aku langsung berlari menuju kamar dan mencari benda tajam, pisau dan gunting! Aku harus tega, aku harus kuat! Ayo, Selly kamu bisa menolong Irine!

Entah apa yang mendorongku, entah apa yang ada di pikiranku saat itu melihat sahabatku terduduk di atas WC bersimbah darah…Ah, cepat-cepat kamu tak punya banyak waktu, Sel!

Aku bergegas kembali ke WC membawa pisau dapurku yang paling tajam. Kusadarkan Cecil, “Cil! Sadar Cil! Ayo bantu aku! Tolong siapkan air hangat dan kain, apa saja! Jilbab-jilbabmu juga ga papa!” Bentakku pada Cecil yang membuatnya tersadar kembali.

“Irine, kamu tahan sebentar!” Dengan tangan gemetar dan tak mengindahkan apa yang ada di tangan Irine aku berusaha sekuat tenaga memotong benda itu. Aduh, sial! Pisaunya kurang tajam, kenapa susah sekali memutusnya? Instingku berkata aku harus memotong benda ini, Oh setelah beberapa saat aku akhirnya berhasil membuatnya terputus.

Langsung aku ambil alih yang dipegang Irine, oh licin dan bau anyir penuh darah.

“Sekarang kamu coba tekan perutmu, lalu mengejan, bersihkan yang tersisa di perutmu, Bersihkan dirimu, Irine!” Tenang, aku ada disini, jangan panik, jangan takut!

“Ciiiiil, air hangat sama kain udah siap?” Aku bergegas menuju kamar Cecil.

“ii…ii…iyaa mbaaak!” Jawabnya parau dan gemetar.

“Jangan panik! Sekarang telpon sialan itu eh si Alan sekarang juga. Kamu punya nomornya kan?!”

Handuk hangat pun kuoleskan ke tubuh mungil berlumuran darah yang sudah membiru ini. Tak sadar air mataku mengalir deras sambil terus mengusap dan membelainya. Ah, sekecil ini kenapa sudah menanggung derita begitu berat.

Lekas kuhangatkan badannya dengan membungkusnya dengan berlapis-lapis kain, kaos dan selimut. Apa saja. Inginku jadi malaikat yang menyelamatkanmu, oh kenapa kamu datang di saat seperti ini?”

“Halo…Alan! Kamu dimana?! Ini aku Shelly, sekarang kamu cepat datang ke kos!! Cepat! Aku tunggu!” kataku pada si Alan yang diam seribu kata di seberang sana

————–

Drrrrttt….drrrttt

“Huh siapa sih hujan-hujan gini telpon, gangguin orang aja” batin Alan, malas-malasan meraih handphonenya di meja.

“Bentar ya, sayang” Ujar Alan sambil mengecup kening kekasih barunya.

“Hahhh??Apaa??” Teriaknya kaget dan panik saat menerima telepon dari Selly.

Sial! Harusnya kupastikan Irine menenggak obat itu di depan mataku, batinku sambil bergegas bersiap menuju kos Irine.

————

Kering…kering sudah airmataku, buntu…buntu sudah pikiranku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana kalau keluarga besarku tahu?  Terbayang ayahku pasti akan mengacungkan ujung pistolnya ke kepalaku, mama? Oh mama bisa-bisa kena serangan jantung . Kakek? Tak usah disebut pula pasti langsung mengeluarkanku dari daftar keluarga besar. Aib! Najis!

Pikiranku berkecamuk…kalut…

Mataku nanar terpatut pada sebilah pisau berlumuran darah yang digeletakkan Selly di lantai.

-Yogyakarta, 20 Oktober 2018

Intan Rawit Sapanti

Published in Cerpen

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*