Skip to content →

Melangitkan Mimpi

Sebenarnya aku punya banyak impian. Salah satunya adalah jadi penulis. Lebih spesifik lagi penulis bestseller. Iya, penulis yang bukunya dipajang di rak-rak bestseller toko buku kesayanganku: Gramedia atau setidaknya Togamas atau Social Agency lah. Hmmm bisa kubayangin pas aku masuk toko buku, kulihat bukuku terpampang di rak buku dan aku pun menghela nafas dalam-dalam. Dengan adegan slow motion lalu aku pura-pura ambil bukuku sambil bergumam…hmm ini yang nulis siapa ya? Sepertinya kenal sambil tersipu-sipu malu, xixixi…Lalu aku akan update status dan broadcast ke semua orang bilang “Sekarang bukuku bisa dibeli di toko buku terdekat, loh!” “Buruaaan sebelum kehabisan!” Hmmm impian yang indah tapi…

…masih jauh panggang dari api nampaknya…

Apa pasal?

Iya sekarang aja mau nulis males-malesan, ga ada target, ga ada latihan setiap hari. Ini aja baru mulai memaksanakan diri untuk berlatih nulis blind writing. Kata mas Brili nulis buku itu ibaratnya seperti orang lagi lari marathon. Ga mungkin kan orang yang ga pernah lari sebelumnya tiba2 ikut marathon trus berhasil sampai garis finish? Ga ada ceritanya gitu…iya kalau kita mau selesaikan garis finish, kita harus banyak latihan dan persiapan. Sedikit-sedikit tapi dilakukan konsisten setiap hari, misal tiap hari lari 1 km, seminggu kemudian ditambah jaraknya dua km, begitu seterusnya sampai level kita bertambah. Sama aja dengan menulis, perlu latihan. Tiap hari harus dipaksa menulis. Misal satu hari menulis dua lembar. Ya gitu terus, harus disiplin. Setelah bisa dua hari satu lembar, misal pasang target selama seminggu atau dua minggu, berikutnya naik level ke tiga lembar, empat lembar dan seterusnya. Dari yang awalnya hanya meluangkan waktu sekitar 10 menit atau 20 menit menjadi 1 jam. Coba cari waktu yang terbaik untuk menulis.  Apakah pagi hari sehabis subuh sekitar jam 4 atau 5? Atau waktu malam hari saat semua terlelap?

Kalau alasan ga bisa latihan menulis karena ga ada waktu, hmm itu bulshit banget. Nyatanya bisa tuh nonton drama korea berpuluh-puluh jam. Coba hitung sendiri berapa ratus jam yang kamu habiskan sia-sia untuk menonton aja? Coba investasikan waktunya ke hal-hal yang lebih berguna misalnya atihan menulis. Ingat menurut pakar, kamu butuh setidaknya 10.000 jam untuk melatih kemamuan agar bisa disebut ekspert. Iyaa 10.000 jam itu kira-kira 5 tahun. Dalam waktu 5 tahun ke depan artinya setiap hari kamu harus tekun dan disiplin menulis. Ya menulis apa apa aja. Setelah sudah jadi kebiasaan nanti bisa dengan gampang menulis topik-topik tertentu. Setelah sudah terbiasa dengan pemanasan, tentu saja kepala kita harus diisi untuk bisa menuangkan gagasan atau ide-ide cerita.

 Caranya gimana?

Membaca tentu saja. Sepertin halnya menulis misal kita luangkan waktu 1 jam untuk menulis maka kita juga harus luangkan waktu satu jam untuk membaca. Baca apa aja deh, mungkin bisa kita targetkan satu buku fiksi dan satu buku non fiksi dalam satu minggu. Artinya ada 8 buku yang dibaca dalam sebulan bukan? Takut budget jebol karena beli buku? Gampang, sekarang jaman udah canggih, bisa donlot aplikasi perpus nasional, atau gramedia online untuk baca buku. E-book juga sudah bertebaran. Kalau ga ya bisa lah baca di perpus dan pinjam buku di perpustakaan. Simple kan?

Oke jadi kamu harus komit ke dirimu sendiri untuk berlatih blind writing sehari atau dua kali sehari. Topiknya bebas apa saja yang terlintas di kepalamu.

Janji pada dirimu sendiri untuk berlatih. Buat daily progress setiap hari untuk memantau perkembanganmu dalam dunia tulis menulis. 5 tahun lagi usiamu kira-kira sudah 38 tahun. Usia yang sudah tidak muda, iya kalau masih diberi panjang umur. Ya Allah sungguh ku berdoa padamu agar hidupku yang singkat ini dapat membawa manfaat bagi sesama.

Aku ingin sekali menjadi orang yang berguna bagi orang-orang. Aku ingin punya yayasan yang merawat anak-anak terlantar, yaitim piatu, atau anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena terhalang biaya. Ya Allah kabulkanlah doaku ini, berikan jalan bagi hambamu ini untuk mejadi orang yang berguna.

Bagaimana caranya? Iya aku ikhtiar dengan menjadi penulis, semoga suatu saat bukuku bisa sukses di pasaran dan menjadi best seller, aku bisa mewujudkan semua impianku. Tentu saja impianku yang utama adalah menaikkan haji kedua orangtuaku dengan hasil royalti buku. Gaji sebagai dosen mungkin hanya pas-pasan untuk keluargaku dan jaminan pendidikan anak-anakku kelak.

Izinkan aku menjadi perpanjangan tanganmu ya Allah, aku ingin semua anak-anak yang kurang beruntung di dunia ini mengenyam indahnya bangku pendidikan setinggi-tingginya. Inilah janjiku. Aku janji akan berusaha kerjas untuk mewujudkannya.

Apa target tahun ini?

Target tahun ini semoga aku bisa pecah telor dan tembus penerbit mayor. Aku akan ikut kelas mas Brili lagi habis lebaran nanti dan coba untuk menulis tentang kehidupan dosen, ya semacam catatan konyol seorang dosen tapi aku juga mau menulis hal-hal yang berfaedah. Apa yang orang lain harus ketahui sebelum memilih jadi seorang dosen.  Setidaknya buku yang kutulis nanti bermanfaat bagi para pelamar kerja untuk setidaknya mendapat gambaran pekerjaan apseperti apa dosen. Apa saja yang dilakukan oleh seorang dosen, kewajiban dan hak-haknya plus segala aral lintang yang harus dilalui. Sehingga mereka tidak gegabah dalam menentukan profesi yang akan jadi jalan hidupnya kelak. Tentu saja di sisi lain aku ingin menghibur para pembaca dengan cerita-cerita konyol dan lucu. Aku ingin pembaca yang sedang sedih bisa tertawa menertawakan keganjilan dan kecerobohanku, sehingga beban hidup di pundak mereka setidaknya bisa berkurang barang sedikit.

Baik inilah impianku dalam 5 tahun mendatang yang harus aku capai. Setidaknya aku berusaha sekuat tenaga. Jika memang setelah aku berusaha dan berlatih setiap hari tapi julukan penulis best seller itu tak kunjung bisa disematkan di dadaku, ya aku tidak akan menyesal di hari tuaku nanti. Setidaknya aku pernah give all my best dan work hard to achieve my dreams. Seenggaknya itu yang tidak akan kusesali di kemudian hari.

Aku ingin anak cucuku dapat menikati cerita-ceritaku dan meneruskan untuk menjadi orang-orang yang bermanfaat.

Lha terus kamu jadi dosen gimana? Iya aku akan tetap jadi dosen yang baik, dan tentu saja berprestasi. Namun saat jenuh dengan rutinitas mengajar, aku ingin ada satu duia yang menjadi pelarianku. Yah meskipun sudah agak terlambat baru umur 33 baru menyadari passionku sebenarnya bahwa aku sangat sukaa menulis dan membaca. Its okay daripada tidak sama sekali ya kaan?

Baiklah, sampai jumpa di sesi curhat ketik buta hari berikutnya.

Annnyeong!

Oya jangan lupa janjimu untuk update blog setiap hari. Itu adalah salah satu cara untuk melecut dirimu rajin dan disiplin menulis.

Oya jangan lupa tahun ini kamu harus bergabung dengan komunitas dan mendekatkan diri dengan magnet-magnet keberuntunganmu. Siapa mereka? Ya tentu saja penulis-penulis yang sudah sukses duluan. Kamu bisa belajar banyak dari mereka baik melalui karya-aryanya atau pun bertemu secara langsung. Beruntunglah aku tinggal di Jogja, kota pendidikan, pusat seluruh pakar budaya, seni dan pendidikan.

Bismillah, Tuhan dan Semesta, tolong dengarkan suara hatiku dan bantu aku melangitkan doa-doaku yaaa….

Tulisan ini akan aku baca lagi 5 tahun mendatang. Aakah aku akan jadi seorang penuis? Atau jadi seorang dosen biasa-biasa saja, yang tiap hari mengajar, dan mengurus borang? Hmmm lets see…

The choice is yours..

Published in Uncategorized

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*