Skip to content →

Storytelling

Sebenarnya hari ini aku merasa banyak kena tamparan dan dapat banyak pelajaran tentang menulis kisah perjalanan dari mas Hannif, blogger di balik www.insanwisata.com. Banyak sekali momen Aha moment “Ah, iya juga yaa”, “Oh, gitu yaa” selama dua jam tadi sambil manggut-manggut saat mencatat poin-poin dari mas Hannif.

“Apa iya, selamanya saya cuma mau foto-foto, menikmati pemandangannya, lalu menulis keindahan alam di tempat wisata yang saya kunjungi. Semua orang juga akan menuliskan hal yang sama. Lalu, di mana keunikannya?” ujar mas Hannif.

Mak jlebb… iya juga siiih sekarang ini aku kalau jalan-jalan atau berwisata yaa paling banter cuma narsis foto-foto aja, makan-makan, hahahihi, lalu pulang kembali ke kehidupan biasa. Tak lupa upload foto-foto di IG supaya eksis, gaul dan kelihatan happy. That’s it.

“Saya pengen nulis sesuatu yang unik, dan paling penting berdampak positif bagi orang lain,” tambahnya. Mas Hannif pun bercerita tentang tulisannya “Pelita untuk Papua” waktu mengunjungi bumi Papua, bukan keindahan Misool atau Raja Ampat yang ditulisnya melainkan keadaan masyarakat di sana, listrik yang hanya ada satu minggu sekali, perahu yang hanya ada seminggu sekali, hingga cerita ada masyarakat yang meninggal karena terlambat mendapat pertolongan medis karena malaria. Tulisannya menggugah banyak pihak, termasuk PLN yang akhirnya tergerak untuk memasang listrik di daerah sana. Beliau pun menggagas gerakan Sahabat Misool untuk menggalang donasi sepatu untuk anak-anak sekolah di daerah sana yang sebagian besar kalau berangkat sekolah tak bersepatu jadi hampir 90% anak-anaknya cacingan. Tak hanya sepatu, bahkan buku dan donasi-donasi lain pun berdatangan.

Luar biasa! Semua berkat goresan pena, tulisan yang menggugah hati. Subhanallah…tak terhitung berapa banyak orang yang terbantu, berapa ratus anak-anak yang bisa bersepatu dan membaca buku di belahan bumi sana.

There must be a story in every journey

Tiga unsur penting dalam penulisan kisah perjalanan bergaya storytelling:

  1. Masukkan nilai/pesan yang membuat pembaca bergerak atau mendapatkan inspirasi
  2. Beri ruang kepada orang lain untuk tampil di dalam cerita
  3. Masukkan nilai-nilai perjuangan dan edukasi

“Saya sudah tidak memberikan panggung kepada diri sendiri di setiap cerita, sebaliknya saya selalu memakai sudut pandang orang lain ketika menulis” tegas mas Hannif.

Jleb moment lagi niih, duh setelah kuingat-ingat lagi sepertinya hampir semua tulisan perjalananku ya hampir semuanya tentang diri sendiri, jarang sekali mengangkat kisah orang lain. Nilai-nilai perjuangan dan edukasi? Hmm apalagi ini, kepikiran juga kagak ya maklum udah rempong bergaya ini itu dan asik berfoto ria jadi ga sempat perhatikan sekitar.

“Ngapain to kita di sini, Mak? Uways bosan kalau cuma buat foto-foto! Ah ga guna, Uways bosan!” keluh Uways setiap kami jalan-jalan, bete dia bentar-bentar difoto atau disuruh berpose.

Ah…iya benar juga sih. Aku jadi ga peka dengan lingkungan sekitar, kelima inderaku tak kupakai untuk mengamati lebih jeli keadaan sekitar. Tak sempat lagi waktuku untuk membuka hati dan bercengkerama dengan orang lokal, bercakap-cakap santai dan menggali keunikan tempat tersebut dari mereka.

Aha moment lagi! Apa susahnya buka mata, buka telinga dan buka hati sambil menjelajah di tempat baru?

Sebenarnya dari penuturan masyarakat lokal ini kita akan dapat banyak info-info menarik. Tentunya dengan pendekatan yang halus ya, tidak serta merta nodong untuk diwawancara. Takjub banget sama usaha mas Hannif ini, bayangin katanya ga cukup sejam dua jam untuk wawancara dengan narasumbernya. Bisa sehari dua hari atau bahkan berhari-hari. Dia akan berusaha melihat dengan langsung, atau ikut melakukan apa saja yang dilakukan si narasumber. Merasakan apa yang mereka rasakan, bahkan sampai tidur seadanya demi menggali cerita dari mereka. Wiih luar biasa yaaa…totalitas tanpa batas! Coba baca aja tulisannya yang berjudul

How to write a great travel story?

Nah, ini nih bagian yang paling ditunggu-tunggu pemirsa. Pertama dan terutama tentu harus melakukan RISET. Iyap riset yang berlapis-lapis tentunya, tak hanya mengandalkan om google atau mesin pencari. Kita tentu harus turun langsung ke lapangan untuk menggali data-data dan cerita dari sumbernya langsung. Memang sih data pertama tentu dari google dulu, setelah itu baru ditambahkan data-data hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan.

Kedua, lakukan pengamatan. Wah ini, tentunya butuh waktu lama, tenaga dan tentunya ketelatenan plus kesabaran yah. Ga mungkin juga bisa selesai satu atau dua jam, bisa jadi berhari-hari atau berbulan-bulan. Mas Hanif biasanya sering menghabiskan waktu barang sehari atau dua hari bersama narasumbernya. Melakukan kegiatan rutin  yang dilakukan narasumbernya, jadi dia merasakan dan mampu menyerap seluruh informasi dengan semua pancainderanya. Proses penulisan akan jauh lebih mudah dengan cara ini, pastinya hasilnya juga akan lebih natural dan alami, jauh dari kesan dibuat-buat.

Lhaaa sayaa? Mana sempeeet? Duileeeh, rempong ya ciin mau jadi penulis kondang. Hiksss…ya sudahlah terima nasib aja jadi penulis blog abal-abal kekgni.

Mudah-mudahan sharing kali ini ada yang bermanfaat yaah… Sekali lagi terima kasih banyak mas Hanif udah berbagi sama anak-anak di prodi Sastra Indonesia. Sukses selalu buat mas Hanif yaah! Sampai jumpa di lain waktu.

Published in Uncategorized

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*