Skip to content →

Friend with Benefit, or … ?

Lapak curcol dibukaaaa, ouyeeahh udah lama banget kagak curhat di sini ya buk. Maafkeun, takut dijulidin netizen kan tapi ya gimana kalau ga dikeluarin ni uneg-uneg takut lama-lama jadi bisul kan. Yawdah kita losskeun saja…

Jadi gini, ada lah someone yang baru kenal dan tau-tau dekat banget sama aku. Pendekatannya sungguh massive oh, saya sampai merasa aneh dan heran. Biasanya untuk dekat dalam artian aku menerimanya jadi teman dekatku itu butuh waktu yang lumayan lama karena harus memantau dan harus melalui masa suka duka dulu baru ketauan dia itu teman yang cocok ga sama aku.

Eh ini ga dong, ibarat pepatah kata petrus jakandor pepet terus jangan kasih kendor itu nyata adanya. Sempat heran juga sih kok dia intens banget ya keep contact sama aku, ga pagi siang malam masih aja ngajak ngobrol dan yaa kuakui sih emang nyambung banget dan berasa nemu sohib baru yang benar-benar bisa diajak ngobrol or curhat tentang apa aja. Asiknya lagi ternyata dia empati banget sama aku, ketika melihat aku lembur-lembur sendirian dia bakalan inisiatif untuk menawarkan diri bantuin. Padahal bukan kerjaan dia juga, tapi mau dan rela ga tidur berhari-hari demi bantuin aku.

I was like, oh mungkin dia salah satu malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan sama aku. Aku berpikir Oh aku ga sendiri, ternyata banyak yang sayang sama aku, mereka ga ngebiarin aku menderita sendiri. Nah, selain teman kerja dan teman curhat dia juga bisa diajak main. Tau banget timing aku lagi stress, down, or udah tensi naik maka dia bakal ngajakin main biar aku bisa pelampiasan emosi sama stress. Ga main yang hedon-hedon sih kek makan enak-enak or karaoke cuma diajakin olahraga ajah. Tapi itu udah more than enough untuk stress release, loh!

Nah, semakin ke sini anehnya kumerasa kok komunikasi dia ke aku udah jarang banget. Nget. Udah ga pernah ngajakin main, ngobrol or sekedar say hi aja udah ga sempet. Aku masih berpikir positif oh mungkin karena dia sedang sibuk dan punya prioritas lain. That’s fine sih. Tapi makin hari aku merasa dia semakin jaga jarak, kalau tidak ada hal penting banget yang butuh ditanyain ke aku dia ga bakal chat lagi. Okeh, aku masih bisa paham. Mungkin dia mau benar-benar jaga jarak takutnya kenapa-kenapa. Tapi yang paliing keliatan banget, kemarin chat aku tapi sapaannya udah beda. That’s the weird thing. Sekarang pakai kata sapaan yang normal using only ‘Mbak”. We used to call each other using another term. Anak bahasa mah sensitif, udah bisa membaca situasi hanya dari penggunaan bahasa aja. That’s why I love Linguistics. *lohh malah OOT

Sebenarnya harusnya aku konfirm sih ya, apakah aku ada salah or apa yang buat dia menjauh. Tapi tak usahlah, buat apa? Kalau dia sudah menarik jarak dan oke dengan hal ini. Baiklah, I’ll do the same. Walau sempat terbersit pikiran ga baik juga tentang dia, apakah dia hanya menginginkan benefits saja dari aku? Setelah dia dapat apa yang dia mau, finish. Oh kalau gitu cara mainnya, maybe you’ll be forgiven, but not forgotten dude. Mungkin akan aku maafkan tapi aku ga bakalan lupa. Mungkin juga aku akan ngeblacklist dari daftar teman dekat aku dan nurunin ke grade “teman biasa” or bahkan ke grade yang lebih nyungsep di list aku.

Yah back to premis dasar sih, nyari teman yang tulus itu susah! Selama ini aku hanya punya beberapa aja, bisa dihitung dengan jari. Tapi its more than enough buat aku. Mereka selalu ada on my ups and down. Mereka ga seketika pergi dan menghilang, selalu ada “Hai, gimana kabar?” saat aku lagi kesepian or ada masalah. Ga cuma pas senang aja kita berbagi, tapi lebih ke problem solving yah ketika satu dari kami ada masalah or sesuatu yang rumit maka kami akan kasih pemikiran dari sudut pandang yang berbeda.

Even if ga bisa bertatap muka karena waktu yang ga cocok semua, tapi kami bisa keep in touch lewat sosial media or whatsapp. We support each other, ini circle pertemanan yang aku jaga banget. We’ve been friends for decade, and still count. Semoga teman-teman yang tulus ini selalu diberikan umur panjang, keberkahan dan kesehatan oleh Allah. Semoga apa yang telah kalian lakukan dapat balasan yang sebaik-baiknya oleh Allah SWT. Aamiin YRA.

Terima kasih kalian selalu ada, from now on I’ll only focus counting my blessing. Daripada capek hati mikirin teman with benefits, lebih baik fokus berbagi ke teman-teman yang real tulus dan sudah teruji pertemanannya dengan aku. Itulah malasnya kalau udah umur segini untuk mencari teman, malas aku buka-buka hati lagi. Yasudahlah bersyukur dengan yang ada aja.

Intinya bukan aku ga mau berteman sama siapa aja, tapi kan siklus pertemanan kita ada dibagi ke beberapa circle kan. Nah untuk semuanya yang kenal pasti akan ada circle terluar dan terbesar, untuk circle terdekat dan terkecil ini memang susah nembus ke sini. Jadi tetap lah aku say hi dan berusaha cari kenalan setiap hari. Aku bakalan tetap jadi intan yang suka senyum, riang gembira dan ramah kok! Don’t worry lah yaaa…

So, lets get a long with dan be a nice friends yah!

Published in Uncategorized

One Comment

  1. Mbaknya udah jadi “be nice friend” gak sama temen2 mbak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*