Skip to content →

How Digital World Invade our Personal Space.

The first question from the very first beginning is, do we really have our personal privacy nowadays?

Privacy. Personal Space. Sebuah konsep yang sangat mahal dan susah dicari pada saat ini. Just imagine, setiap hari setiap saat kita harus melihat pesan whatsapp dari berbagai grup, memantau pesan dari pimpinan, setiap saat, kapanpun dan dimanapun. Bahkan jauh sebelum pandemi dan konsep work from home diperkenalkan, kita sudah tidak memiliki kuasa atas diri kita sendiri. Saat membuka sosial media pun, kita didesign untuk terus melihat, scroll up, scroll down sampai berjam-jam lamanya menikmati beragam hiburan atau postingan. Sampai kita tidak bisa mengendalikan diri. Tidur kurang, jiwa kita selalu merasa ‘lapar’ dan tidak puas atas kondisi sendiri, kenapa orang lain bisa tapi aku belum bisa? Wah, aku mau traveling seperti si X, aku juga bisa beli barang ini seperti si Y, dan sebagainya.

Betul, the control is in our hand. Tetapi kita bisa apa ketika ‘tangan-tangan besar’ telah mengatur sedemikian rupa menyediakan segala kenyamanan yang kita butuhkan. Membuat kita tidak bisa lepas dari gadget, budaya konsumtif, tidak pernah puas dan tidak cukup waktu untuk diri sendiri.

Masih ingat dulu waktu awal-awal kerja, semua dokumen, file dan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dilakukan melalui email, atau telepon di kantor. Selesai jam kerja, kita dapat pulang dan melakukan hal-hal untuk diri sendiri di rumah. Dulu whatsapp hanya dipakai untuk komunikasi personal. Sekarang? oh nooo…beragam fitur baru seperti video call, grup chat bahkan grup bisa mewadahi banyak orang. Berbondong-bondong orang membuat whatsapp grup. Tidak hanya grup untuk silaturahmi, bahkan grup pekerjaan juga dapat dibuat di whatsapp. Kapanpun, dimanapun, kita harus selalu siap menerima informasi.

Is that Okay?

Awalnya mungkin kita merasa nyaman dan terbantu berkat semua teknologi ini, tapi jika ditilik lebih lanjut, ini sudah tidak sehat. Bagaimana bisa kita memikirkan pekerjaan sepanjang waktu? Sedangkan kita masih harus memikirkan keluarga, pekerjaan di rumah, bahkan diri sendiri. Sekedar waktu untuk tidur tenang, berkebun, berolahraga, tanpa terganggu oleh paparan informasi.

Nah, berikutnya mari kita bahas solusi yang bisa kita lakukan.

  1. Lakukan digital detox secara rutin.
  2. Tetapkan waktu untuk terlihat ‘online’ misal matikan koneksi internet mulai pukul 8 malam dan kembali membuka pada pukul 9 pagi keesokan harinya.
  3. Menentukan batasan-batasan, dokumen penting berhubungan dengan pekerjaan dapat dikirimkan melalui email
  4. Disiplin diri menentukan jam kerja.
  5. Bertanggung-jawab terhadap pekerjaan.
  6. Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan hobi
  7. Jangan menggadaikan waktu tidur di malam hari hanya untuk scroll tiktok atau Instagram. Tertib dan sehat dalam bersosial media
  8. Manfaatkan weekend dan waktu senggang untuk berinteraksi langsung bersama keluarga, sahabat dan rekan-rekan
  9. Lebih banyak waktu untuk membaca buku, menulis, dan melakukan hal-hal lain yang positif.
  10. Always ask yourself, are u okay? Selalu cek kesehatan mental diri sendiri, jika sudah merasa burnout, letih lesu, capek luarbiasa, don’t force yourself. Selalu pantau keadaan diri sendiri, jika sudah lelah maka perhatikan waktu istirahat.

Ada saran yang lain lagi mungkin dari teman-teman semua? Sampai kapan dunia digital merenggut jiwa kita? Ya kali, kita juga ga bakal nerima tamu asing atau orang ga dikenal kan di rumah kita sendiri? Lakukan juga di dunia digital. Pilah pilih, dan pegang kontrol sepenuhnya agar tidak lepas kendali.

Semangaat!

Published in Uncategorized

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*